Hindari Konten Berbau Post-Truth, Begini Caranya!

Image for post
Image for post

Pernah nggak kalian istilahnya kemakan sama konten-konten hoax di Facebook, Whatsapp, atau Instagram? Lalu terjebak dalam pusaran opini dari berbagai pihak yang punya pengaruh? Kalo pernah, maka selamat datang! Selamat datang di era dimana fakta, bukti konkret, scientific understanding, bahkan pemikiran logical sudah kalah dibandingkan opini seseorang yang seperti sebuah tembok dimana fakta-fakta tadi tidak bisa menembus masuk, dan keadaan inilah yang biasa disebut dengan Post-Truth.

Pada tahun 2016 Oxford Dictionary menetapkan 1 kata untuk menjadi Word of the Year yaitu Post-Truth. Buat kalian yang baru pertama kali denger, Post-Truth adalah keadaan dimana keyakinan, opini, dan perasaan pribadi lebih berpengaruh dibandingkan fakta dan data aktual yang mendukung.

Saat kita membaca sebuah konten di media sosial, entah itu konten berisi informasi atau promosi, sadar atau nggak, terkadang kita telah membuat sebuah thought-bubble sendiri dengan hanya membaca judulnya Balkan sebelum kita membaca isinya. Seperti di tahun politik kali ini, banyak banget pakar politik berlomba-lomba memberikan opini mereka yang nggak jarang malah menyesatkan dan blunder sehingga menyebabkan kegaduhan dalam masyarakat.

Post-truth bisa diciptakan oleh siapa aja, mulai dari seorang pakar yang dikenal luas oleh masyarakat sampai orang biasa dengan pengetahuan seadanya. Topik opini bermacam-macam, biasanya sih mengenai hal-hal yang sedang hangat diperbincangkan. Terlepas dari benar atau salah, netizen yang merasa sejalan dengan si pembuat opini bakalan mengaimini dan tentu saja menyebarkannya lagi ke platform media sosial lain hingga menjadi viral. Nah, sebagai agency khususnya content maker gimana sih caranya menghindari konten yang berbau Post-Truth? Gini caranya :

1. Know the audience, setiap produk pasti punya target market tersendiri, kenali ciri demografi, kebiasaan, dan feedback mereka. Beberapa tema konten yang Kamu angkat mungkin aja ditafsirkan secara berbeda dari sisi etika dan budaya.

2. Keep objective, jangan karena maksud menarik perhatian audiens dan menyenangkan hati klien, konten yang dibikin nggak berdasarkan fakta dari produk yang dipromosikan dan cenderung kepada opini tak berdasar. You are what you write.

3. Keep it simple, terlepas dari kenyataan bahwa audiens muncul untuk membaca kontenmu, kebanyakan dari mereka akan mencoba membacanya sesedikit mungkin. Buat konten yang nggak hanya mudah dibaca, tetapi juga mudah dimengerti. Dengan menjaganya tetap sederhana, Kamu terhindar dari Post-Truth.

4. Know the risk, setiap konten yang Kamu buat adalah tanggungjawabmu, nggak asal jadi dan menarik, Kamu juga harus bisa memperkirakan gimana respon audiens secara umum, kalo berisiko berbau Post-Truth atau berpotensi menciptakan Post-Truth yang negatif tentunya wajib Kamu hindari.

5. Be genuine to client, nggak sedikit client yang terjebak dalam kompetisi bisnis beradu klaim keunggulan produk yang mereka buat. It’s ok if the claim is in accordance with the facts tapi kalo nggak, gimana? Di tahap ini yang bisa Kamu lakukan adalah menyampaikan pada klien berbagai risiko buruk yang mungkin aja klien hadapi. Kalo masih ngeyel juga? Let the righteous netizen do their magic.

Jadi content maker emang nggak mudah apalagi disertai demand dari klien yang tinggi dan macem-macem, keep logic and positive, guys! Ada banyak cara untuk bikin konten keren tapi bebas Post-Truth. Punya tips lainnya? Share with us!

Written by

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store