Mengenal Lebih Dekat Sebelum Kena Tipu Instagram Influencer Palsu

Image for post
Image for post

Pasti kalian kenal atau bahkan ngefans senggaknya sama 1 atau 2 orang yang famous di Instagram sampai follow akun Instagram mereka segala, ya kan? Kepikiran nggak sih kenapa kalian bisa follow orang-orang seperti mereka di Instagram? Apa karena kontennya yang kece? Atau karena apa yang mereka rekomendasiin worthed untuk Kamu ikutin? Apapun alasannya yang jelas mereka punya kekuatan untuk mempengaruhi followers-nya di Instagram, makannya mereka dinamakan Instagram influencer.

Latar belakang mereka bisa datang dari mana saja, dari orang biasa yang punya interest di dunia make up dan berujung jadi make up blogger hingga selebriti yang hobi traveling dan bisa ngambil gambar yang kece-kece lalu terjun menjadi seorang travel blogger.

Kalo umumnya netizen memanggil mereka dengan sebutan selebgram, kita sebagai agency biasanya memanggil mereka dengan sebutan Influencer atau KOL (Key Opinion Leader) untuk menyebut para penyandang ribuan, ratusan ribu bahkan jutaan followers di IG yang memiliki kekuatan mempengaruhi followers untuk bertingkah laku layaknya seperti mereka. Selain sebagai influencer, digital agency juga biasa memakai jasa mereka sebagai buzzer, tugas mereka mirip yaitu untuk mengenalkan produk suatu brand dan mempengaruhi followers mereka agar meniru apa yg mereka lakukan atau menggunakan produk yang mereka gunakan sesuai arahan brand yang bekerja sama dengan mereka, bedanya aktifitas influencer nggak seramai buzzer, cukup 1 atau 2 konten secara periodik yang mereka posting, sedangkan buzzer biasanya lebih banyak konten yang diposting di media sosial.

Nah, untuk memilih KOL yang ingin dipakai juga nggak bisa sembarangan, ada beberapa proses yang harus kita lakukan sebagai digital agency. Ini penting banget karena mereka akan bertindak sebagai brand ambassador dimana pesan yang mereka sampaikan harus sesuai, tepat pada target market brand, dan memenuhi target KPI yang telah ditentukan. Beberapa hal berikut bisa jadi concern kalian sebelum memilih KOL yang akan Kamu pakai jasanya, check this out!

1. Background checking, mengamati citra mereka di mata netizen secara umum, apakah ada masalah hukum yang sedang atau pernah dialami KOL sebelum atau saat dia menjadi terkenal, misalnya kasus narkoba atau perceraian.

2. Jumlah followers, menghitung berapa banyak followers yang mereka miliki yang kira-kira bisa ter-influence oleh campaign yang kita lakukan, dan gimana interaksi KOL dengan followers-nya, tentunya KOL yang memiliki hubungan baik dengan followers-nya menjadi prioritas utama karena punya engagement level yang tinggi.

3. Mengetahui track record brand apa saja yang pernah di-endorse oleh mereka dengan cara ini bisa diketahui reputasi dan untuk jenis produk apa saja kita dapat memanfaatkan jasa mereka.

Image for post
Image for post

Bukan tanpa alasan, concern di atas muncul karena makin populernya Instagram akhir-akhir ini sebagai media marketing yang memicu makin suburnya profesi Instagram influencer, nggak jarang mereka yang awalnya hanya sebagai follower kini nekat terjun juga menjadi Instagram influencer. Pemicunya apa lagi kalo bukan alasan ekonomi, karena konon penghasilan yang didapat oleh seorang Instagram influencer cukup menggiurkan. Saking menggiurkannya mereka yang mencoba terjun sebagai Instagram influencer rela melakukan segala cara agar dinilai worth oleh brand, salah satunya dengan membeli followers. Biasanya para fake Instagram influencer ini mengincar brand yang membutuhkan Micro-Blogger (10–80k follower) untuk dijadikan sasaran empuk. Mereka rela merogoh kocek sendiri untuk membayar para “followers” bodong untuk mem-follow akun Instagram mereka. Emang sih kayak seperti buang-buang uang tapi kalo dihitung, modal yang mereka keluarkan nggak seberapa besar dibandingkan bayaran dari brand-brand yang jatuh kedalam perangkap mereka. Bayangin, untuk mencapai titik angka terendah supaya dianggap sebagai Micro-Blogger (10.000 followers) menurut salah satu website penyedia jasa Beli follower, kita hanya mengeluarkan uang sebesar 700 ribu rupiah saja. Nah, kalo mereka memasang tarif sebesar 400 ribu rupiah per konten untuk brand kecil, mereka hanya butuh 2 brand kecil untuk balik modal sekaligus mendapatkan untung sebesar 100 ribu rupiah, gimana? Sounds interesting, kan?

Coba bayangin misalnya agency kalian yang jatuh ke dalam perangkap mereka? Udah uang habis buat bayar mereka, KPI yang dituju malah nggak tercapai, target market juga salah sasaran, dan yang paling parah adalah dihujat dan dimarahin klien, disaster banget ga sih?

Jadi, sebagai agency, Kamu dituntut harus pinter-pinter menganalisis KOL mana yang potensial yang bisa Kamu gunakan jasanya di Instagram, minimal dengan menganalisis beberapa concern yang udah kita sampaikan diatas. Karena di tahun 2019 ini cuma dengan beberapa click, manusia biasa akan berubah menjadi selebgram dengan ribuan followers.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store